peluang bisnis

Waspada Bisnis Franchise di Indonesia Tahun 2015

bisnis franchise indonesia

Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini, perkembangan bisnis dengan sistem franchise di Indonesia cukup mewabah. Dalam berbagai metode periklanan, sangat banyak kita lihat penawaran seperti ini. Dan yang menarik adalah di tahun 2015 ini, banyak sekali penawaran dari produk-produk baru (belum terkenal). Fenomena ini sangat berkebalikan pada 25 tahun yang lalu, saat bisnis franchise mulai berkembang di kota-kota besar di Indonesia dan kebanyakan penawaran kerjasamanya dilakukan oleh brand dari luar negeri dan biasanya sudah terkenal. Hal ini patut anda waspadai.

Jika pada era tahun 90an, Franchise banyak dikembangkan pada makanan terutama cepat saji, maka di tahun 2000an, metode bisnis ini mulai berkembang pada usaha jasa. Mulai dari ticketing pesawat (travel agent), klinik, forwarder, cucian mobil dan lain-lain. Tapi kini di tahun 2015 ini, usaha dengan sistem patnership dan bagi hasil ini meluas ke segala aspek. Perusahaan kecil atau baru, tidak segan-segan untuk menawarkan produk makanan, minuman, maupun jasa lainnya. Sepertinya, mengembangkan usaha di wilayah lain dengan pembukaan cabang resmi mulai ditinggalkan. Lebih baik bekerjasama dengan patner lokal untuk memasarkan produk dan jasa dengan sistem franchise. Pengusaha utama menyediakan sistem dan patner lokal melakukan pemasaran.

Sebenarnya, strategi bisnis seperti ini sah saja dilakukan. Walaupun merk belum terkenal dan keberadaan produk belum banyak ditemukan, pengembangan usaha dengan model franchise boleh saja diterapkan. Masalahnya adalah patner kerjasama di wilayah lain yang seharusnya waspada. Di tahun 2015 ini, sering terdengar cerita pengusaha pemula yang kemudian mengganti jenis bisnis yang dikelolanya karena kegagalan memasarkan produk dari penyedia franchise. Mereka hanya tergiur dengan kemudahan perijinan yang diuruskan, nilai investasi yang kecil serta perhitungan pembagian keuntungan yang terlihat fantastis. Padahal, di wilayahnya sendiri, pebisnis pemilik brand ternyata juga kurang bisa memasarkan produknya. Hal ini patut diwaspadai oleh pemula. Sepertinya, pemilik brand sedang mencari tenaga handal untuk memasarkan produk, bukan bermaksud mengembangkan merk/brand. Padahal hakekat utama dari program franchise adalah penguatan brand image.

Dari pengalaman buruk di tahun ini yang saya dengar, saya ingin menghimbau kepada patner lokal yang tertarik mengikuti bisnis sistem franchise agar waspada dan berhati-hati. Jika anda tertarik karena merk tersebut belum ada di wilayah anda, memang potensi keberhasilannya cukup besar. Tetapi anda perlu melakukan research di wilayah asal si pemegang merk. Apakah produk mereka mudah ditemukan di masyarakat? Dan bagaimana dengan minat market terhadap produk tersebut? Memang jika anda melakukan survey ke pelanggan rasanya sulit dan butuh waktu lama. Tips mudah bagi anda adalah dengan melakukan survey stock di minimarket maupun toko. Jika di sana sudah tersedia produk yang seperti itu, maka anda dapat memutuskan untuk mengikuti peluang bisnis program patnership dalam bentuk franchise.

Demikianlah sekilas perkembangan bisnis franchise di negara Indonesia, yang pada tahun 2015 diwarnai dengan beberapa kejadian yang kurang menyenangkan. Tetapi anda juga jangan berhenti berinvestasi. Masih banyak juga terdengar cerita sukses tentang penerapan sistem usaha seperti ini. Prinsipnya adalah waspada dan penuh kehati-hatian. Karena banyak pebisnis nakal yang memanfaatkan metode ini demi mengeruk keuntungan pribadi, padahal dia sendiri tidak berhasil mengembangkan brand yang dimilikinya.