peluang bisnis

Mengapa Tidak Banyak Pegadaian Sertifikat Rumah?

pegadaian sertifikat rumah

Pertanyaan tentang keberadaan layanan jasa pegadaian dengan agunan sertifikat rumah, tanah maupun ruko yang tidak banyak di Indonesia ini muncul di group facebook saya. Terkait dengan tulisan tentang jenis jaminan di leasing pegadaian, di situ tertulis pebisnis yang melayaninya sedikit. Dan berikut analisa saya secara pribadi, dan hasil bertanya kepada teman-teman di perbankan maupun perusahaan pembiayaan.

Adapun alasannya adalah:

  1. Agunan rumah memiliki harga yang lebar antara taksasi dengan nilai pasaran. Kondisi ini semakin parah terjadi di Jakarta dan sekitarnya. Pada kebanyakan perumahan, seolah mematok harga jual untuk 10 tahun ke depan, padahal NJOP-nya masih cukup rendah. Kejadian ini sering menjadi perdebatan dengan calon debitur, karena perbankan dan leasing biasanya menetapkan taksasi tidak jauh dari harga NJOP.
  2. Proses pemindahan tangan dari pemilik lama ke perbankan akibat wanprestasi biasanya sulit dan membutuhkan waktu lama. Untuk dapat mempersiapkan jaminan sertifikat rumah maupun tanah dilepas pada mekanisme lelang, maka prosesnya tidak sederhana.
  3. Proses lelang yang juga membutuhkan waktu. Berbeda dengan layanan jaminan mobil yang relatif lebih mudah, dalam hitungan menit, unit yang dilelang langsung terjual.
  4. Karena nilai rumah cukup tinggi, maka nilai pencairan juga cukup tinggi. Apalagi jika tenor dibatasi maksimal tiga tahun, maka cicilannya menjadi besar. Pada tahap ini, tidak banyak kalangan masyarakat yang memenuhi standar kapasitas yang memadai terhadap angsuran tersebut. Mungkin dia mampu membeli rumah itu karena sebelumnya menggunakan KPR dengan tenor panjang, lebih dari sepuluh tahun.

Dengan keempat alasan yang merupakan hasil analisa pribadi tersebut, nampak jelas bahwa pegadaian sertifikat rumah maupun tanah bakalan menganggap bahwa layanan tersebut kurang menarik dalam perputaran bisnis.